Hai Asa,
malam itu,
kau tampak bisu,
entah apa yang kau perbuat,
seolah tak peduli,
taukah kau,
ku terpaku,
nafas memburuku jantungpun berdegup,
50meter dari Pondok yg kokoh itu,
tetap kukayuh laju mesinku,
tuk sampaikan maksud hati,
langkahku semakin berat,
ketika kuketuk pintu perlahan
tetapi tetap saja tak terlihat wajah nyatanya
entah dimana,
sebuah simbol representatif diberikan
berbalik badan dan tetap tegar walau batin berkecamuk,
Ku datang dengan asa,
dan pulang menitih asa,
berselimut nestapa,
entah sampai kapan sang waktu,
No comments:
Post a Comment